Tentang Abang None Jakarta

SEJARAH

Ide diselenggarakan pemilihan None Jakarta (belum ada Abang) adalah dalam rangka mencari spesifikasi tentang Kota Jakarta yang pada waktu mencari identitas dirinya. Lomba pemilihan remaja putra putri terbaik di tingkat Provinsi DKI, yang tidak terbatas pada seleksi ketampanan dan kecantikan tetapi juga intelegensi pengetahuan umum, bakat di bidang seni budaya dan lain-lain. Abang merupakan panggilan untuk orang laki-laki yang kedudukannya lebih tua dalam struktur keluarga atau dalam pergaulan dan pertemanan dalam bahasa Betawi. Sedangkan None merupakan sebutan atau panggilan untuk orang perempuan yang masih muda dan bersuami.

Pemilihan None Jakarta kali pertama terjadi pada bulan Juni1968. Ketika itu pemilihan baru terbatas pada kategori None. Belum ada kategori Abang. Ide pemilihan ini di gagas oleh Haji Usmar Ismail. Usmar adalah tokoh perfilman nasional yang setelah meninggal dikukuhkan sebagai Bapak Perfilman Nasional. Dalam pelaksanaannya, Bapak Usmar bekerjasama dengan Badan Pengembangan Pariwisata (BAPPARDA) DKI Jakarta. ketika itu, BAPPARDA yang kini dikenal sebagai Dinas Pariwisata DKI Jakarta, dipimpin oleh Haji Wim Bahar Tomasoa.

Pemilihan None Jakarta pada saat itumerupakan upaya pelestarian budaya bangsa khususnya daerah Jakarta yang memiliki budaya Betawi. Penyelenggaraannya bersamaan dengan malam puncah HUT DKI Jakarta di tahun 1968, dimana acaranya dipusatkan di sepanjang jalan M.H Thamrin yang dikenal pada waktu itu sebagai acara “Dancing on the street”. Pemilihannya sendiri bertempat di maraca Sky Club, lantai teratas Gedung Sarinah Jakarta. Disanalah lahir None Jakarta yang pertama tahun 1968 Reziani Malik.

Dalam perkembangan selanjutnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini Bapparda DKI Jakarta sebagai penyelenggara penuh pemilihan Abang dan None Jakarta memerlukan seorang Abang Jakarta sebagai pasangan pendamping None Jakarta. Tepatnya pada tahun 1971 terpilih Hamid Alwi sebagai Abang Jakarta Pertama.

Selanjutnya Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, Bapak H. Alisadikin meminta kepada H. Wim Bahar Tomasoa dari Bapparda DKI Jakarta untuk memasyarakatkan pemilihan Abang dan None Jakarta mulai dari melakukan pemilihan secara berjenjang dari tingkat kelurahan, kecamatan dan kota. Hasil pemilihan di tingkatkelurahan naik ketingkat kecamatan, hasil pemilihan tingkat kecamatan naik ke tingkat kota. Para Abnon yang terpilih di tigkat kota mewakili kota dan kabupaten masing-masing untuk mengikuti pemilihan di tingkat provinsi. Dengan demikian, Bang Ali berharap kualitas peserta sudah benar-benar terseleksi dari bawah. Wakil dari kota manapun yang terpilih sebagai Abnon merupakan hasil pilihan yang terbaik karena mereka sudah melalui serangkaian ujian dari tingkat wilayah hingga tingkat provinsi. Itu sebabnya mereka yang terpilih dan di nobatkan sebagai Abnon menjadi sah menyandang predikat sebagai Abang dan None Jakarta.

Bang Ali tidak hanya memberi arahan dan memberi masukan tentang kriteria pemilihan. Menurut Abang Bastian Ibrahim, (Abang Jakarta 1975) , Bang Ali pulalah yang mempakemkan “busana resmi” Abang None Jakarta yang bias kita saksikan seperti sekarang ini, mulai dari tat arias rambut None sampai dengan perlengkapan resmi Abang dan None Jakarta.

Para pemenang Abang dan None tingkat wilayah kotamadya yang terpilih nantinya dikirim ke tingkat Provinsi untuk memperebutkan gelar Abang dan None Jakarta. Pada tahun 1974 terpilihlah untuk yang pertama kalinya Abang Jakarta dari wilayah Jakarta Pusat dan None Jakarta dari wilayah Jakarta Barat.

Sumber : Drs. Bastian Ibrahim, MM (Abang Jakarta 1975)

PEMILIHAN ABANG DAN NONE JAKARTA

Setiap tahun Dinas pariwisata Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Pemilihan Abang None Jakarta, dan setiap tahun itu pula muncul pertanyaan dari masyarakat, “Apasih tujuan dari acara ini?”

Pemilihan ini adalah sebuah lomba pemilihan remaja putra-putri terbaik di tingkat provinsi DKI Jakarta, yang tidak terbatas pada seleksi ketampanan atau kecantikan, tetapi juga intelegensi pengetahuan umum, bakat di bidang seni budaya dan lain-lain. Lomba ini telah berlangsung sejak tahun 1968. Para Abang None di seleksi oleh masing-masing daerah tingkat II di seluruh wilayah DKI Jakarta, meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Jakarta Kepulauan Seribu. Setelah terpilih tiga pasang juara dari masing masing wilayah, mereka akan di kirim ke tingkat provinsi untuk kemudian akan dilakukan pemilihan dan penyeleksian kembali untuk di nobatkan sebagai Abang None Tingkat Provinsi DKI Jakarta.

Terbuka untuk siapa saja

Tanggung jawab melestarikan budaya betawi adalah tanggung jawab seluruh warga Jakarta. Oleh karena itu Abang dan None Jakarta tidak di khususkan untuk seseorang yang keturunan Betawi, melainkan terbuka untuk siapa saja. Tidak menjadi masalah apakah calon pesertanya keturunan Arab, Tionghoa, Batak, Padang, Jawa, Bali, Papua dan lain sebagainya. Jika yang bersangkutan adalah Warga Negara Indonesia yang baik, dam mau mendedikasikan dirinya untuk kemajuan kepariwisataan Jakarta, maka yang bersangkutan berhak mengikuti ajang ini.

Tugas dan tanggung jawab Abang None Jakarta

Tugas sebagai Abnon Jakarta adalah :

  1. Melaksanakan tugas sebagai pendamping Gubernur DKI Jakarta dalam acara resmi yang bersifat protokoler.
  2. Melaksanakan tugas sebagai pendamping pejabat lainnya tingkat DKI Jakarta khususnya Dinas Pariwisata DKI Jakarta.
  3. Sebagai wakil generasi muda Kota Jakarta dalam mengembangkan dan melestarikan seni budaya asli kota Jakarta dengan tidak mengabaikan pengembangan budaya nasional pada umumnya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai event ini.